IMG02307-20131130-10541. Kesiapan Persalinan

Kesiapan berasal dari kata “siap” mendapat awalan ke – dan akhiran -an. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia / KBBI (2002; h. 1059) kesiapan adalah suatu keadaan bersiap-siap untuk mempersiapkan sesuatu. Sedangkan kesiapan persalinan yaitu suatu keadaan bersiap- siap untuk mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi.

Menurut Leaderman (1984) yang dikutip oleh Fauziah dan Sutejo (2012; h. 31) menyatakan bahwa persiapan paling baik untuk melalui persalinan ialah kesadaran yang sehat tentang kewaspadaan terhadap nyeri dan risiko yang diimbangi dengan perasaan suka cita dan pengharapan akan hasil akhir yang menggembirakan.

Persiapan persalinan bertujuan untuk menyiapkan semua kebutuhan selama kehamilan maupun proses persalinan. Persiapan persalinan adalah segala sesuatu yang disiapkan dalam hal menyambut kelahiran anak oleh ibu hamil. Persiapan persalinan pada trimester III meliputi faktor resiko ibu dan janin, perubahan psikologi dan fisiologi, tanda-tanda bahaya dan bagaimana meresponnya, perasaan mengenai melahirkan dan perkembangan bayi, tanda-tanda saat hendak melahirkan, respon terhadap kelahiran, ukuran-ukuran kenyamanan situasi kelahiran cesar dan perawatan yang terpusat pada keluarga (Matterson, 2001).

Menurut Sholihah (2008; h. 20) ada 3 hal persiapan dalam persalinan, yaitu :

a. Persiapan Fisik

Kehamilan menyebabkan banyak perubahan pada tubuh ibu. Perubahan – perubahan itu untuk menyesuaikan tubuh ibu pada keadaan kehamilan (Ratna, 2009; h. 117).

Proses persalinan adalah proses yang melelahkan, untuk itu perlunya dilakukan persiapan fisik semenjak kehamilan memasuki bulan ke 8 kehamilan, hal ini disebabkan persalinan bisa terjadi kapan saja.

1) Gizi yang Seimbang

Semakin besar dan tua usia kehamilan, maka semakin banyak asupan yang dibutuhkan oleh ibu dan janinnya. Di samping itu, ibu hamil juga harus ingat bahwa bayi dalam kandungannya sangat membutuhkan makanan yang cukup. Tetapi juga jangan terlalu berlebihan, sebab hal ini bisa menyebabkan bayi terlalu besar (Sholihah, 2008; h. 20).

Status gizi merupakan hal yang penting diperhatikan pada masa kehamilan, karena faktor gizi sangat berpengaruh terhadap status kesehatan ibu selama hamil serta guna pertumbuhan dan perkembangan janin (Kusmiyati, 2009; h. 81). Kebutuhan gizi ibu hamil meliputi :

a) Energi

Kebutuhan energi waktu hamil adalah 300 – 500 kalori lebih banyak dari sebelum hamil yaitu trimester pertama atau < 2 minggu kebutuhannya sangat sedikit, trimester kedua atau 12 – 28 minggu, kalori dibutuhkan untuk penambahan darah, pertumbuhan uterus, pertumbuhan payudara, dan penimbunan lemak, sedangkan trimester ketiga atau > 28 minggu digunakan khususnya untuk pertumbuhan janin dan plasenta (Fauziah dan Sutejo, 2012; h. 103).

Berikut kebutuhan kalori sehari – hari selama masa kehamilan.

Tabel 2.1. Kebutuhan Kalori

Usia Kebutuhan Kalori Sehari Kebutuhan Kalori Sehari Selama Hamil

11 – 15 Th

15 – 22 Th

23 – 50 Th 2200 kkl

2100 kkl

2000 kkl 2500 kkl

2400 kkl

2300 kkl

Sumber : Comprehensive, Maternity Nursing, 2004 yang dikutip oleh Fauziah dan Sutejo (2012; h. 103).

b) Protein

Protein penting bagi pembentukan jaringan tubuh bayi dan penambahan jaringan tubuh ibu. Selain itu, protein juga penting bagi pembentukan semua bahan pengatur seperti hormon, pada ibu dan bayi. Kebutuhan protein ibu hamil ditambah sekitar 12 g/hari (Kusmiyati, 2009; h. 81).

c) Kalsium

Kalsium penting untuk pembentukan tulang dan gigi bayi. Janin mengkonsumsi kira – kira 250 – 300 mg kalsium setiap hari dari suplai darah ibu, terutama selama trimester ketiga, saat lahir bayi menyimpan kira – kira 25 gram kalsium yang dipakai untuk pertumbuhan tulang. Metabolisme kalsium dalam tubuh ibu mengalami perubahan pada awal kehamilan, yang mana membuat simpanan kalsium dalam tulang ibu meningkat yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan kalsium pada trimester ketiga dan masa laktasi. Kebutuhan kalsium dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi susu 240 cc yang mengandung 300 mg kalsium setiap hari, juga sudah termasuk untuk memenuhi kebutuhan tambahan protein dan beberapa nutrien lainnya (Fauziah dan Sutejo, 2012; h. 107).

d) Zat besi

Pemberian suplemen tablet tambah darah atau zat besi secara rutin adalah untuk membangun cadangan besi dan sintesa sel darah merah. Setiap tablet besi mengandung FeSO4 320 mg (zat besi 30 mg), minimal 90 tablet selama hamil (Kusmiyati, 2009; h. 81).

Besi merupakan salah satu nutrien yang tidak dapat diperoleh dalam jumlah yang adekuat dari makanan yang dikonsumsi selama kehamilan, maka diperlukan tambahan besi dalam bentuk ferrous dengan dosis 30 mg per hari (Fauziah dan Sutejo, 2012; h. 107).

Berikut kebutuhan zat besi pada wanita selama masa kehamilan.

Tabel 2.2. Rata – Rata Kebutuhan Zat Besi pada Wanita Hamil

Umur Kehamilan Massa Sel (mcg/kg/hari) Darah Merah (mcg/kg/hari) Janin dan Plasenta (mcg/kg/hari)

Trimester I

Trimester II

Trimester III 0

50

50 0

15

50 14

80

114

Sumber : FAO/WHO yang dikutip oleh Fauziah dan Sutejo (2012; h. 103).

e) Vitamin

Untuk vitamin yang larut lemak seperti A, D, E, dan K terdapat peningkatan kebutuhan selama kehamilan, walaupun gejala defesiensi jarang muncul. Vitamin E mencegah oksidasi vitamin A dalam saluran cerna, sehingga lebih banyak vitamin diabsorbsi. Vitamin K berperan dalam pembekuan darah. Vitamin D berperan penting dalam kenaikan keseimbangan kalsium positif pada masa hamil. Vitamin B12 berperan penting dala mencegah kelahiran prematur dan kelainan sistem saraf pusat pada keturunannya. Vitamin C penting dalam pembentukan dan integritas jaringan dalam meningkatkan absorbsi besi (Fauziah dan Sutejo, 2012; h. 107).

f) Air

Air berfungsi membantu sistem pencernaan makanan dan membantu proses transportasi. Selama hamil terjadi perubahan nutrisi dan cairan pada membran sel. Air menjaga keseimbangan sel, darah, getah bening, dan cairan vital tubuh lainnya. Air juga menjaga keseimbangan suhu tubuh, karena itu dianjurkan minum 6 – 8 gelas (1500 – 2000 ml) air, susu, dan jus tiap 24 jam.

Membatasi minuman yang mengandung kafein seperti teh, kopi, dan minuman yang mengandung pemanis buatan (sakarin) karena bahan ini mempunyai reaksi silang terhadap plasenta (Ratna, 2009; h. 122).

g) Folat

Folat sangat berperan dalam sintesis DNA serta diperlukan untuk meningkatkan produksi sel darah merah, maka folat sangat diperlukan oleh sel yang sedang mengalami pertumbuhan cepat, seperti sel pada jaringan janin dan plasenta. Sumber makanan utama yang mengandung folat ialah sayuran berdaun tua, jeruk, pisang, gandum utuh dan kentang (Fauziah dan Sutejo, 2012; h. 107).

2) Senam Hamil

Senam hamil bukan merupakan suatu keharusan. Namun, dengan melakukan senam hamil akan banyak memberi manfaat dalam membantu kelancaran proses persalinan antara lain dapat melatih pernapasan dan relaksasi, menguatkan otot – otot panggul dan perut, serta melatih cara mengejan yang benar. Kesiapan ini merupakan bekal penting bagi calon ibu saat proses persalinan (Ratna, 2009; h. 125).

Senam hamil dimulai pada umur kehamilan setelah 22 minggu. Senam hamil bertujuan untuk mempersiapkan dan melatih otot – otot sehingga dapat berfungsi secara optimal dalam persalinan normal serta mengimbangi titik berat tubuh. Senam hamil ditujukan bagi ibu hamil tanpa kelainan atau terdapat penyakit yang menyertai kehamilan yaitu penyakit jantung, ginjal, dan penyulit kehamilan (anemia) (Kusmiyati, 2009; h. 106).

3) Istirahat yang Cukup

Ibu hamil dianjurkan untuk merencanakan periode istirahat terutama saat hamil tua. Posisi berbaring miring dianjurkan untuk meningkatkan perfusi uterin dan oksigenasi fetoplasental. Selama periode istirahat yang singkat, seorang wanita dapat mengambil posisi telentang kaki diangkat pada dinding untuk meningkatkan aliran vena dari kaki dan mengurangi edema kaki dan varises vena (Ratna, 2009; h. 126).

Ibu hamil yang masih bekerja dianjurkan untuk mengambil cuti selama satu bulan menjelang persalinan. Dengan demikian diharapkan ibu tidak terlalu lelah, sehingga hal – hal yang tidak diharapkan tidak terjadi menjelang persalinan, disamping agar ibu punya waktu mempersiapkan segala keperluan untuk ibu dan bayi (Sholihah, 2008; h. 21 – 22).

b. Persiapan Mental

Ibu memulai dengan realistis mempersiapkan diri untuk melahirkan dan mengasuh anaknya. Walaupun hanya ibu yang merasakan anak yang berada dalam kandungan, kedua orang tua dan saudara – saudara percaya bahwa anak dalam kandungan berespon dengan cara yang sangat pribadi dan individual. Anggota keluarga dapat berinteraksi sebanyak – banyaknya dengan anak dalam kandungan ini, misalnya dengan berbicara dengan janin dan mengulas perut ibu (Kusmiyati, 2009; h. 79).

1) Hindari Stress

Keadaan emosi yang mudah berubah tentu akan mempengaruhi orang – orang di sekitarnya. Oleh sebab itu, keluarga harus toleransi terhadap perubahan yang dialami. Bila tidak, ibu cenderung akan mengalami stress karena merasa dirinya dikucilkan dan dibenci oleh orang di sekitarnya. Akan tetapi, tindakan yang terlalu memanjakan orang yang sedang hamil juga tidak dibenarkan, karena tidak baik untuk kelanjutannya serta membuat dia merasa lemah dan tidak berdaya (Sholihah, 2008; h. 23).

Agar proses psikologis dalam kehamilan berjalan normal dan baik, maka ibu hamil perlu mendapat dukungan dan kenyamanan dalam psikologisnya. Dukungan ini bisa berasal dari berbagai pihak terutama suami, keluarga, dan orang yang ada di sekitarnya (Kusmiyati, 2009; h. 137).

Menjelang persalinan sebagian besar wanita merasa takut menghadapi persalinannya terutama bagi yang baru pertama kali. Disinilah pembinaan hubungan antara penolong dan ibu saling mendukung dengan penuh kesabaran sehingga persalinan dapat berlangsung dengan lancar (Kusmiyati, 2009; h. 121).

2) Hilangkan Rasa Was – Was

Rasa was – was wajar terjadi pada setiap ibu hamil, terutama kehamilan yang pertama. Ibu khawatir jika seandainya anaknya lahir cacat. Berbagai rasa was – was itu dapat dihindari dengan cara memeriksakan kehamilan secara rutin dan jangan lupa laksanakan semua anjuran yang diberikan oleh dokter, hal ini sangat membantu, baik sewaktu hamil maupun pada saat persalinan nanti (Sholihah, 2008; h. 24).

3) Persiapan Mental Suami

Selain istri, suami juga harus siap mental. Dimana suami merasa diabaikan dengan kehadiran sang buah hati (Sholihah, 2008; h. 25).

Beberapa suami mungkin menunjukan kepedulian akan istrinya. Sedangkan suami lain justru merasa kesepian dan terasing karena istrinya secara fisik dan emosional terikat pada calon anak mereka. Ketegangan dan kekhawatiran ayah yang tidak siap dan dan tidak mendukung mudah menular kepada ibu. Keraguan dan ketakutan bahwa dirinya tidak mampu dapat benar – benar muncul, jika ia tidak didukung. Rasa percaya diri akan timbul, jika ia dapat menentukan tujuan yang realistis dan mendapat dukungan dari orang lain (Bobak, lowdermilk, Jensen, 2004 h. 132).

c. Persiapan Materi

1) Pilihan Tempat Melahirkan

Tempat melahirkan merupakan suatu hal yang harus ditentukan dalam mempersiapkan persalinan, karena setiap ibu yang akan melahirkan perlu fasilitas yang menunjang untuk proses persalinan. Fasilitas yang memadai juga menyebabkan kenyamanan bagi ibu untuk melahirkan (Sholihah, 2008; h. 25).

Menurut Fauziah dan Sutejo (2012; h. 94) ada beberapa pilihan tempat melahirkan, yaitu:

a) Melahirkan di rumah

Di negara berkembang, rumah sakit atau fasilitas yang adekuat tidak tersedia untuk wanita hamil, sehingga melahirkan di rumah menjadi suatu kebutuhan. Praktik melahirkan di rumah dapat dilakukan pada kehamilan tanpa komplikasi (Fauziah dan Sutejo, 2012; h. 94).

Apabila ibu menginginkan untuk bersalin di rumah segera memanggil petugas kesehatan. Sambil menunggu kedatangan petugas, hendaknya dipersiapkan peralatan yang dibutuhkan seperti tempat bersalin, air panas dalam baskom dan alat keperluan ibu dan bayi (Ratna, 2009; h. 124).

b) Melahirkan di rumah sakit

Apabila merencanakan untuk melahirkan di rumah sakit, biasanya wanita harus mendaftar lebih dahulu. Kebanyakan rumah sakit menyediakan pamflet berisi informasi, banyak fasilitas yang menyediakan orang untuk menjelaskan peraturan rumah sakit (Fauziah dan Sutejo, 2012; h. 94).

Apabila bila merencanakan untuk melahirkan di rumah sakit atau rumah bersalin perlu mempersiapkan koper / tas yang berisi pakaian bayi dan pakaian ibu khususnya kain pembalut yang meresap (Ratna, 2009; h. 124).

2) Perlengkapan Bayi dan ibu

Perlengkapan bayi dapat dipersiapkan jauh – jauh hari sebelum bayi lahir, namun banyak kalangan menilai tabu berbelanja keperluan si kecil sampai kandungan minimal berusia 7 bulan. Namun yang pasti, diminggu – minggu akhir kehamilan, semua keperluan si kecil harus tersedia (Sholihah, 2008; h. 31).

Pakain longgar yang nyaman adalah yang terbaik. Bahan kain katun merupakan bahan pilihan. Bra, ikat pinggang ketat, celana pendek ketat, korset dan pakaian ketat lainnya harus dihindari. Penggunaan pakaian ketat pada perineum mempermudah timbulnya vaginitis dan ruam. Kerusakan sirkulasi diekstremitas bawah mempermudah terjadinya varises (Fauziah dan Sutejo, 2012; h. 81).

3) Transportasi

Persiapan persalinan yang perlu untuk diperhitungkan juga adalah masalah transportasi, misalnya jarak tempuh dari rumah ke tempat tujuan membutuhkan berapa lama, jenis alat transportasi, sulit atau mudahnya lokasi ditempuh, karena hal ini akan mempengaruhi keterlambatan pertolongan (Ratna, 2009; h. 124).

4) Dana (Uang)

Agar proses persalinan berjalan secara normal, ibu selamat, dan bayi sehat perlu pendukung lain yaitu dana. Pendanaan yang memadai, perlu direncanakan jauh sebelum masa persalinan tiba dengan cara menabung, dapat melalui arisan, tabungan ibu bersalin (tabulin), atau menabung di bank (Ratna, 2009; h. 124).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s